Jumat, 09 April 2010

BArcode Meter System Untuk Pelanggan Rumah Tangga

Konfersi minyak tanah ke gas sedang gembor-gembornya dibicarakan dan digunakan oleh warga, terlebih untuk para pedagang makanan dan home industry. Langkah ini tidak luput karena dukungan pemerintah yang telah menyuplai gas elpiji PERTAMNINA 3kg ke masing-masing Kepala Keluarga.


Namun akhir-akhir ini gas elpiji sudah mulai langka, wargapun resah. Sehingga tidak sedikit warga yang merasa menyesal karena tealh mengkonfersi sistem pembakaran mereka. Dan banyak pula warga yang mencoba beralih ke gas bumi yang diidstribusikan oleh PGN. KArena selain murah, bersih, aman , pelanggan juga tidak direpotkan untuk kehabisan gas. Hal ini memberikan dampak yang signifikan terutama untuk pasar rumah tangga terlibat dengan banyaknya permintaan yang masuk ke distrik-distrik. Semakin meningkatnya permintaan suplai gas ke warga menyebabkan menaiknya jumlah pelanggan Rumah Tangga.

Hal tersebut membuat Bagian Catat Meter kewalahan. Mereka telah mengarahkan segenap kemampuannya untuk tetap melaksanakan pencatatan meter teapt pada waktunya. Tapi apalah daya kondisi di lapangan berbeda. Cuaca dan kondisi petugas juga berpengaruh.

Oleh karena itu, diubahlah sistem lama yang menggunakan penulisan manual ke Barcode Meter System. Barcode Meter System adalah suatu program aplikasi beserta perangkat keras pendukungnya yang dapat menggantikan proses pencatatan meter rumah tangga dari manual ke sistem elektronika yang terbukti sangat efektif dan efisien, dapat mengurangi biaya operasional dan menghilangkan kesalahan entry dari form pencatatan meter ke Program Oracle Billing. Sehingga dengan Barcode Meter System, diharapkan dapat meningkatkan tingkat pelayanan kita ke pelanggan.

Barcode merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2 sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik atau tidak ada. Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1. Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya tersebut. Pengkodean barcode yang digunakan adalah barcode 1 dimensi. Barcode 1 dimensi terdiri dari garis-garis yang berwarna putih dan hitam. Jarak baca barcode maksimal 0,5 meter.

Langkah awal untuk implementasi barcode adalah mencetak barcode semua ID pelanggan dengan printer barcode melalui program yang sudah terintegrasi dengan perangkat. Dalam label barcode tercetak nama distrik, nama pelanggan, barcode, ID pelanggan dan alamat pelanggan. Selanjutnya label dipasang di area sekitar meter dan dilapisi oleh vinyl yang berfungsi untuk melindungi label dari cuaca, baik itu panas, hujan dan debu yang berakibat merusak label.

Selanjutnya data pelanggan baik yang baru maupun yang existing di-download ke perangkat PDT (Personal Data Terminal). Disini dibutuhkan Database SQL untuk menjembatani antara oracle dengan perangkat PDT karena PDTdapat terkoneksi langsung dengan database SQL. Lalu petugas catat meter membawa PDT ke pelanggan untuk melakukan pencatatan. Setibanya di lokasi, petugas men-scan barcode sehingga nama pelanggan yang ter-scan tampil pada perangkat PDT dan memasukkan angka meter yang tertera. Proses tersebut dilakukan secara terus menerus hingga dalam satu buku atau area tertentu sudah tercatat di dalam perangkat PDT. Salah satu kelebihan dari sistem ini yaitu mampu megecek pelanggan mana saja yang belum dicatat meter.

Setelah selesai dalam mencatat, petugas kembali ke kantor untuk menyerahkan perangkat PDT ke Administrator Billing. Selanjutnya oleh Administrator Billing data meter yang sudah di-entry oleh petugas di-download ke dalam database SQL. Yang kemudian dimasukkan ke database oracle billing.

Mudah sekali bukan? Tanpa kertas, sederhana dan gak ribet!
Semoga inovasi si PGN tetap ada dan tetap mengutamakan pelayanan pelanggan.

Sumber : Majalan Berita PGN Edisi Khusus 42/Juni-Juli/2009

0 komentar:

Posting Komentar